Guru Jarang Masuk, Siswa Kelas IV Belum Bisa Membaca
MELAWI, (KN.com) - Sekolah Dasar Negeri 19 Dusun Guhung Keruap, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, terancam tutup. Pasalnya aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut tak berjalan dengan baik, lantaran ketiadaan guru.
Ketua Komite, Markus Galih mengungkapkan, SDN 19 Guhung Keruap hanya memiliki satu guru PNS yang menjabat sebagai Plt kepala sekolah, dan dua orang guru honor.
"Kepala sekolahnya hanya SK-nya saja di sana, namun mengajar di Nanga Pinoh, sangat jarang berada di tempat, sehingga yang mengajar sekolah itu hanya dua guru berstatus honor, itupun masuknya sudah jam 9.00 WIB. Jadi sekolah ini terancam tutup, karena gurunya jarang ada," kata Markus Galih Selasa (7/4).
Markus mengungkapkan, sekolah tersebut memiliki 86 siswa, dengan jumlah rombongan belajar sebanyak enam kelas. Sementara yang mengajar hanya dua orang, tentu saja proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik.
"Guru satunya ngajar dari kelas satu, sampai kelas tiga, yang satunya lagi kelas 4 sampai kelas enam, karena hanya dua orang terpaksa mereka mengajar secara bergiliran, jadi hanya satu kali pertemuan saja," katanya.
Kata Markus, kondisi ini mengakibatkan sebagian besar siswa di sana kemampuannya sangat minim. Bahkan ada yang sudah menginjak kelas empat belum bisa membaca. "Inikan sangat memprihatinkan, kelas empat harusnya sudah belajar tentang pengetahuan, namun membaca saja belum bisa," katanya. (TP)
Ketua Komite, Markus Galih mengungkapkan, SDN 19 Guhung Keruap hanya memiliki satu guru PNS yang menjabat sebagai Plt kepala sekolah, dan dua orang guru honor.
"Kepala sekolahnya hanya SK-nya saja di sana, namun mengajar di Nanga Pinoh, sangat jarang berada di tempat, sehingga yang mengajar sekolah itu hanya dua guru berstatus honor, itupun masuknya sudah jam 9.00 WIB. Jadi sekolah ini terancam tutup, karena gurunya jarang ada," kata Markus Galih Selasa (7/4).
Markus mengungkapkan, sekolah tersebut memiliki 86 siswa, dengan jumlah rombongan belajar sebanyak enam kelas. Sementara yang mengajar hanya dua orang, tentu saja proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik.
"Guru satunya ngajar dari kelas satu, sampai kelas tiga, yang satunya lagi kelas 4 sampai kelas enam, karena hanya dua orang terpaksa mereka mengajar secara bergiliran, jadi hanya satu kali pertemuan saja," katanya.
Kata Markus, kondisi ini mengakibatkan sebagian besar siswa di sana kemampuannya sangat minim. Bahkan ada yang sudah menginjak kelas empat belum bisa membaca. "Inikan sangat memprihatinkan, kelas empat harusnya sudah belajar tentang pengetahuan, namun membaca saja belum bisa," katanya. (TP)



Tidak ada komentar: