Keluarga TNI Minta Dibantu Lolos Tes Tentara, Moeldoko: Lagu Lama
JAKARTA, (KN.com) - Ada curahan hati seorang istri anggota TNI dalam organisasi Dharma Pertiwi yang diutarakan kepada Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Si istri tentara ingin agar anaknya dipermudah Moeldoko lolos tes menjadi tentara.
"Saya istri Kapten Infantri Budianto, saya ingin menyampaikan saran, mohon kiranya bapak bisa membantu mempertimbangkan anak anggota TNI yang ingin menjadi TNI," kata seorang istri tentara itu kepada Moeldoko di Korem 041/ Garuda Emas, Jl Pembangunan, Bengkulu, Selasa (19/5).
Moeldoko memang memberi kesempatan agar para keluarga besat TNI mengutarakan aspirasinya pada acara 'Pengarahan Panglima kepada Prajurit, PNS dan Anggota Dharma Pertiiwi Koorcab Bengkulu' di tempat itu. Lalu Ibu itu melanjutkan bahwa dia punya lima anak, putra sulungnya sudah empat kali gagal tes menjadi tentara.
"Anak saya empat kali mendaftar, tapi sampai saat ini belum ada nasib atau rezeki, mohon kiranya bapak membantu agar anak saya sukses," pinta si Ibu itu.
Moeldoko menanggapi ringan. "Itu lagu lama itu. Lagu lama, Bu," ucap Moeldoko mengundang tawa dua ratusan lebih orang yang memenuhi seisi ruangan.
Moeldoko menilai kadang-kadang anak tentara juga tak dipersiapkan dengan baik saat hendak mengikuti tes masuk tentara. Seharusnya, anak tentara itu dilatih dulu secara fisik oleh orang tuanya agar bisa lolos tes.
"Tapi rata-rata dari anak-anak tentara itu sontoloyo juga," kata Moeldoko disambut tawa seisi ruangan.
Menurut Moeldoko, TNI tak bisa mengistimewakan anak tentara untuk gampang masuk lolos tes seleksi tentara. TNI sudah punya standard tersendiri dalam penyaringan calon-calon prajuritnya.
"Jadi nggak bisa. Kita tidak akan menurunkan standard. Nanti kalau toleransi-toleransi, ya rusak nanti standard prajurit. Standard kita tidak boleh dikurangi," tegas Moeldoko.
Ada pula seorang istri tentara yang berkeluh kesah, namun dengan gaya cukup mengundang tawa, soal tunjangan untuk anak istri. Dia ingin tunjangan itu dinaikkan.
"Saya ini hanya istri prajurit rendahan. Ya setidaknya supaya kita bisa satu tahun sekali ke salon," kata istri prajurit TNI itu.
Sesekali Moeldoko juga menyeletuk menanggapi curahan-curahan hati keluarga TNI itu. "Anggaran kosmetik bisa-bisa lebih besar daripada anggaran senjata," kata Moeldoko dengan kocak.
Menurutnya, sudah ada kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit. Pihaknya akan terus mencek soal kesejahteraan prajurit.
Seorang pria PNS TNI juga berkeluh soal seragamnya yang hanya satu jenis dipakai sepanjang hari dalam sepekan. "Pakaian PNS TNI ini dari Senin sampai Jumat, bajunya satu," kata pria PNS TNI ini.
Namun Moeldoko menjawab bahwa perkara ini merupakan ranah Kementerian Pertahanan. Sambil bercanda, dia menambahkan berarti baju yang dipakai PNS TNI itu berbau tak sedap alias 'lebus' dalam Bahasa Jawa logat Suroboyoan.
"Ambune, rek," kata Moeldoko disambut tawa. (DTK)
"Saya istri Kapten Infantri Budianto, saya ingin menyampaikan saran, mohon kiranya bapak bisa membantu mempertimbangkan anak anggota TNI yang ingin menjadi TNI," kata seorang istri tentara itu kepada Moeldoko di Korem 041/ Garuda Emas, Jl Pembangunan, Bengkulu, Selasa (19/5).
Moeldoko memang memberi kesempatan agar para keluarga besat TNI mengutarakan aspirasinya pada acara 'Pengarahan Panglima kepada Prajurit, PNS dan Anggota Dharma Pertiiwi Koorcab Bengkulu' di tempat itu. Lalu Ibu itu melanjutkan bahwa dia punya lima anak, putra sulungnya sudah empat kali gagal tes menjadi tentara.
"Anak saya empat kali mendaftar, tapi sampai saat ini belum ada nasib atau rezeki, mohon kiranya bapak membantu agar anak saya sukses," pinta si Ibu itu.
Moeldoko menanggapi ringan. "Itu lagu lama itu. Lagu lama, Bu," ucap Moeldoko mengundang tawa dua ratusan lebih orang yang memenuhi seisi ruangan.
Moeldoko menilai kadang-kadang anak tentara juga tak dipersiapkan dengan baik saat hendak mengikuti tes masuk tentara. Seharusnya, anak tentara itu dilatih dulu secara fisik oleh orang tuanya agar bisa lolos tes.
"Tapi rata-rata dari anak-anak tentara itu sontoloyo juga," kata Moeldoko disambut tawa seisi ruangan.
Menurut Moeldoko, TNI tak bisa mengistimewakan anak tentara untuk gampang masuk lolos tes seleksi tentara. TNI sudah punya standard tersendiri dalam penyaringan calon-calon prajuritnya.
"Jadi nggak bisa. Kita tidak akan menurunkan standard. Nanti kalau toleransi-toleransi, ya rusak nanti standard prajurit. Standard kita tidak boleh dikurangi," tegas Moeldoko.
Ada pula seorang istri tentara yang berkeluh kesah, namun dengan gaya cukup mengundang tawa, soal tunjangan untuk anak istri. Dia ingin tunjangan itu dinaikkan.
"Saya ini hanya istri prajurit rendahan. Ya setidaknya supaya kita bisa satu tahun sekali ke salon," kata istri prajurit TNI itu.
Sesekali Moeldoko juga menyeletuk menanggapi curahan-curahan hati keluarga TNI itu. "Anggaran kosmetik bisa-bisa lebih besar daripada anggaran senjata," kata Moeldoko dengan kocak.
Menurutnya, sudah ada kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit. Pihaknya akan terus mencek soal kesejahteraan prajurit.
Seorang pria PNS TNI juga berkeluh soal seragamnya yang hanya satu jenis dipakai sepanjang hari dalam sepekan. "Pakaian PNS TNI ini dari Senin sampai Jumat, bajunya satu," kata pria PNS TNI ini.
Namun Moeldoko menjawab bahwa perkara ini merupakan ranah Kementerian Pertahanan. Sambil bercanda, dia menambahkan berarti baju yang dipakai PNS TNI itu berbau tak sedap alias 'lebus' dalam Bahasa Jawa logat Suroboyoan.
"Ambune, rek," kata Moeldoko disambut tawa. (DTK)



Tidak ada komentar: