Wawancara Khusus Dengan Balon Bupati Sintang 2015 - 2020, Djarot Winarno
SINTANG, (KN.com) - Mantan Wakil Bupati Sintang periode 2005 - 2010, Djarot Winarno menyatakan diri maju pada Pilkada 2015. Hal tersebut dibuktikan dengan melakukan pendaftaran sebagai Bakal Calon Kepala Daerah ke PDI Perjuangan, Sabtu (16/5). Banyak yang bertanya-tanya, apakah dirinya yang pernah bertarung sebagi Calon Bupati Sintang 2010 - 2015 ini akan ikut kembali bertarung di Pilkada 2015 atau tidak. Ragam pertanyaan itu sudah terjawab.
Kenyalangnews.com, berkesempatan mengadakan wawancara khusus dengan Djarot Winarno. Berikut hasil dari wawancara tersebut:
KN : Lima tahun terakhir ini kemana saja pak?
JW :Saya masih PNS golongan IV.B. Saat ini saya menjadi staff ditempat yang pernah saya pimpin dilaboratorium kesehatan di Pontianak. Saya juga menjadi konsultan di United States Agency for International Development atau Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika yang disingkat USAID, dan saya memegang di enam kabupaten untuk kesehatan ibu dan anak. Jadi itu yang saya lakukan dengan kembali ke basic-nya. Tapi tetap juga melakukan komunikasi dengan kawan-kawan di Sintang, atau bertemu dengan kawan-kawan jika mereka ke Pontianak. Komunikasi tetap saya bangun. Saya juga masih urus sepak bola, dan menjadi Sekum PSSI Kalimantan Barat. Nah gini-gini saya juga atlet bridge, dan baru pulang dari kejurnas bridge di NAD serta membawa kota Pontianak menduduki ranking 6 nasional
KN : Apa yang dapat Bapak gambarkan terhadap Kabupaten Sintang di lima tahun terakhir ini?
JW : Salah satu sumber tidak maksimalnya pembangunan dikabupaten sintang itu biasanya masalah komunuikasi pembangunan antara kabupaten dengan provinsi kemudian dengan pusat. saya melihat bahwa 9 program nawacita yang merupakan program dari pasangan Jokowi-JK dan juga perpres no 2 tahun 2015 sudah dituangkan menjadi rencana pembangunan jangka menengah nasional dan ini sangat bagus dan sangat relevan dengan pembangunan daerah kita. Salah satu program dari nawacita itu adalah pembangunan yang dimulai dari daerah pinggiran atau desa hingga beranda NKRI yakni daerah perbatasan. Nah ini perlu kita implementasikan dalam gerak pembangunan di kabupaten Sintang ini, sehingga benang merah dari pusat, provinsi hingga kabupaten ini tetap bersinergi.
KN : Intinya adalah masalah komunikasi yang belum begitu nyambung antara kabupaten-provinsi dan pusat
JW : Ya...sebagai contoh, jalan mulai dari Sintang-Pinoh-Tugu Beji inikan jalan nasional dan tentunya yang bertanggung jawab adalah pemerintah pusat, pelaksananya adalah provinsi dan user-nya adalah kabupaten. Tapi apa yang terjadi? Pembangunan ruas jalan ini justru bermasalah. Pengelolaan tendernya tidak pas. Pemenangnya juga wanprestasi, jadwalnya mandeg, dan kita juga tidak bisa me-lobbi ke pusat untuk peluncuran dana bahkan juga untuk dana penggantinya. Jadi beginilah akibatnya. Selain itu masalah konflik pertanahan antara masyarakat dengan pihak perkebunan yang terus terjadi. Padahal pemerintah sudah meluncurkan program tanah untuk tani yang jumlahnya mencapai jutaan hektar di seluruh Indonesia, bahkan untuk kabupaten Sintang porsinya masih banyak sekitar 40 ribuan sertifikat tanah bagi petani dalam program landreform. Nah yang seperti ini perlu satu koordinasi yang baik antara kita dengan provinsi dan pusat. Jadi ini salah satu faktor yang penting meskipun bukan utama.
KN : Kalau bicara kans untuk dapat meraih PDI P sebagai partai pengusung, sementara beberapa nama balon juga berharap yang sama?
JW : Itu saya serahkan kepada mekanisme PDI Perjuangan sendiri. Good news atau Bad News hasilnya akan tetap saya hargai, hormati dan saya terima dengan lapang dada. Dari penjelasan kawan-kawan di PDI Perjuangan tadi sudah sangat gamblang, bahwa PDI Perjuangan sangat terbuka dan akan melakukan seleksi dengan ketat untuk calon yang pantas di usung nantinya.
KN : Bapak pernah maju di Pilkada 2010, namun dewi fortuna tampaknya belum berpihak ke Bapak. Bagaimana dengan persiapan 2015 ini Pak?
JW : Saya pikir, masa lalu tentunya akan menjadi pembelajaran untuk semua orang, termasuk saya. Saya hanya lebih senang untuk menatap kemasa depan. Situasi lima tahun lalu tentunya sudah berbeda. Semua orang sudah tahu, termasuk anda bahwa perolehan suara saya di Pilkada 2010 lalu juga sangat signifikan, hanya saja mungkin kurang beruntung. Tapi ditahun ini, dengan mencoba untuk menggandeng partai penguasa tentunya akan mengubah alur saya untuk lebih siap. Mungkin ada di masyarakat Sintang yang bertanya-tanya kemana saya setelah Pilkada 2010. Saya tetap ada dan Sintang adalah bagian dari hidup saya.
KN : Apa Bapak sudah turun ke basis massa?
JW : Ya...tapi saya tidak akan menabrak aturan dari Penyelenggara Pemilu. Sosialisasi tetap akan saya lakukan. Dan saya sangat tertolong serta berterimakasih dengan adanya pemberitaan mengenai saya dimedia cetak ataupun elektronik seperti sekarang ini. Jika waktunya tiba, saya pasti akan turun ke masyarakat.
KN : Anda bahkan menyempatkan waktu untuk menemui Pak Abeng di Lapas Sintang?
JW : Ya...hidup kita ini panjang dan saya mengenal Pak Abeng sudah sangat lama, apalagi saat Pak Abeng menjabat sebagai Sekretaris Golkar. Sebagai sahabat, adalah wajar untuk menunjukkan simpatik serta memberikan support terhadap Pak Abeng. Bahkan ketika saya menjabat sebagai Wakil Bupati, saya termasuk yang banyak memberikan solusi kepada masyarakat Serawai dan Ambalau terkait dengan permasalahan dengan perusahaan perkebunan disana. Jadi kunjungan saya ke beliau tidak ada tendensi apa-apa, selain melihat sahabat
KN : Terakhir Pak Jarot. Ada keluhan dari tenaga kesehatan yakni Bidan PTT yang sudah mempertanyakan nasib mereka karena hingga kini tidak ada kejelasan untuk diangkat sebagai PNS.
JW : Saya dengar itu dan tahu. Yang perlu diingat untuk mereka Bidan PTT bahwa ada pernyataan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara bahwa moratorium penerimaan pegawai itu masih dimungkinkan untuk tenaga kesehatan dan pendidik. Hanya saja aturan pelaksanaannya hingga kini memang belum diterima, tapi yang jelas pemerintah pusat sudah memikirkan hal itu. Jadi para Bidan PTT ini sudah pasti akan menjadi prioritas. Kita berharap ada formasi untuk mereka pada saat penerimaan CPNS. Kalau memang hal tersebut tidak bisa dilakukan, solusinya adalah kembali kepada daerah. Artinya daerah dapat mengangkat mereka sebagai pegawai daerah sesuai dengan kebutuhan. (PHS)
Kenyalangnews.com, berkesempatan mengadakan wawancara khusus dengan Djarot Winarno. Berikut hasil dari wawancara tersebut:
KN : Lima tahun terakhir ini kemana saja pak?
JW :Saya masih PNS golongan IV.B. Saat ini saya menjadi staff ditempat yang pernah saya pimpin dilaboratorium kesehatan di Pontianak. Saya juga menjadi konsultan di United States Agency for International Development atau Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika yang disingkat USAID, dan saya memegang di enam kabupaten untuk kesehatan ibu dan anak. Jadi itu yang saya lakukan dengan kembali ke basic-nya. Tapi tetap juga melakukan komunikasi dengan kawan-kawan di Sintang, atau bertemu dengan kawan-kawan jika mereka ke Pontianak. Komunikasi tetap saya bangun. Saya juga masih urus sepak bola, dan menjadi Sekum PSSI Kalimantan Barat. Nah gini-gini saya juga atlet bridge, dan baru pulang dari kejurnas bridge di NAD serta membawa kota Pontianak menduduki ranking 6 nasional
KN : Apa yang dapat Bapak gambarkan terhadap Kabupaten Sintang di lima tahun terakhir ini?
JW : Salah satu sumber tidak maksimalnya pembangunan dikabupaten sintang itu biasanya masalah komunuikasi pembangunan antara kabupaten dengan provinsi kemudian dengan pusat. saya melihat bahwa 9 program nawacita yang merupakan program dari pasangan Jokowi-JK dan juga perpres no 2 tahun 2015 sudah dituangkan menjadi rencana pembangunan jangka menengah nasional dan ini sangat bagus dan sangat relevan dengan pembangunan daerah kita. Salah satu program dari nawacita itu adalah pembangunan yang dimulai dari daerah pinggiran atau desa hingga beranda NKRI yakni daerah perbatasan. Nah ini perlu kita implementasikan dalam gerak pembangunan di kabupaten Sintang ini, sehingga benang merah dari pusat, provinsi hingga kabupaten ini tetap bersinergi.
KN : Intinya adalah masalah komunikasi yang belum begitu nyambung antara kabupaten-provinsi dan pusat
JW : Ya...sebagai contoh, jalan mulai dari Sintang-Pinoh-Tugu Beji inikan jalan nasional dan tentunya yang bertanggung jawab adalah pemerintah pusat, pelaksananya adalah provinsi dan user-nya adalah kabupaten. Tapi apa yang terjadi? Pembangunan ruas jalan ini justru bermasalah. Pengelolaan tendernya tidak pas. Pemenangnya juga wanprestasi, jadwalnya mandeg, dan kita juga tidak bisa me-lobbi ke pusat untuk peluncuran dana bahkan juga untuk dana penggantinya. Jadi beginilah akibatnya. Selain itu masalah konflik pertanahan antara masyarakat dengan pihak perkebunan yang terus terjadi. Padahal pemerintah sudah meluncurkan program tanah untuk tani yang jumlahnya mencapai jutaan hektar di seluruh Indonesia, bahkan untuk kabupaten Sintang porsinya masih banyak sekitar 40 ribuan sertifikat tanah bagi petani dalam program landreform. Nah yang seperti ini perlu satu koordinasi yang baik antara kita dengan provinsi dan pusat. Jadi ini salah satu faktor yang penting meskipun bukan utama.
KN : Kalau bicara kans untuk dapat meraih PDI P sebagai partai pengusung, sementara beberapa nama balon juga berharap yang sama?
JW : Itu saya serahkan kepada mekanisme PDI Perjuangan sendiri. Good news atau Bad News hasilnya akan tetap saya hargai, hormati dan saya terima dengan lapang dada. Dari penjelasan kawan-kawan di PDI Perjuangan tadi sudah sangat gamblang, bahwa PDI Perjuangan sangat terbuka dan akan melakukan seleksi dengan ketat untuk calon yang pantas di usung nantinya.
KN : Bapak pernah maju di Pilkada 2010, namun dewi fortuna tampaknya belum berpihak ke Bapak. Bagaimana dengan persiapan 2015 ini Pak?
JW : Saya pikir, masa lalu tentunya akan menjadi pembelajaran untuk semua orang, termasuk saya. Saya hanya lebih senang untuk menatap kemasa depan. Situasi lima tahun lalu tentunya sudah berbeda. Semua orang sudah tahu, termasuk anda bahwa perolehan suara saya di Pilkada 2010 lalu juga sangat signifikan, hanya saja mungkin kurang beruntung. Tapi ditahun ini, dengan mencoba untuk menggandeng partai penguasa tentunya akan mengubah alur saya untuk lebih siap. Mungkin ada di masyarakat Sintang yang bertanya-tanya kemana saya setelah Pilkada 2010. Saya tetap ada dan Sintang adalah bagian dari hidup saya.
KN : Apa Bapak sudah turun ke basis massa?
JW : Ya...tapi saya tidak akan menabrak aturan dari Penyelenggara Pemilu. Sosialisasi tetap akan saya lakukan. Dan saya sangat tertolong serta berterimakasih dengan adanya pemberitaan mengenai saya dimedia cetak ataupun elektronik seperti sekarang ini. Jika waktunya tiba, saya pasti akan turun ke masyarakat.
KN : Anda bahkan menyempatkan waktu untuk menemui Pak Abeng di Lapas Sintang?
JW : Ya...hidup kita ini panjang dan saya mengenal Pak Abeng sudah sangat lama, apalagi saat Pak Abeng menjabat sebagai Sekretaris Golkar. Sebagai sahabat, adalah wajar untuk menunjukkan simpatik serta memberikan support terhadap Pak Abeng. Bahkan ketika saya menjabat sebagai Wakil Bupati, saya termasuk yang banyak memberikan solusi kepada masyarakat Serawai dan Ambalau terkait dengan permasalahan dengan perusahaan perkebunan disana. Jadi kunjungan saya ke beliau tidak ada tendensi apa-apa, selain melihat sahabat
KN : Terakhir Pak Jarot. Ada keluhan dari tenaga kesehatan yakni Bidan PTT yang sudah mempertanyakan nasib mereka karena hingga kini tidak ada kejelasan untuk diangkat sebagai PNS.
JW : Saya dengar itu dan tahu. Yang perlu diingat untuk mereka Bidan PTT bahwa ada pernyataan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara bahwa moratorium penerimaan pegawai itu masih dimungkinkan untuk tenaga kesehatan dan pendidik. Hanya saja aturan pelaksanaannya hingga kini memang belum diterima, tapi yang jelas pemerintah pusat sudah memikirkan hal itu. Jadi para Bidan PTT ini sudah pasti akan menjadi prioritas. Kita berharap ada formasi untuk mereka pada saat penerimaan CPNS. Kalau memang hal tersebut tidak bisa dilakukan, solusinya adalah kembali kepada daerah. Artinya daerah dapat mengangkat mereka sebagai pegawai daerah sesuai dengan kebutuhan. (PHS)



Tidak ada komentar: