Kisah Guru Pedalaman Melawi: Agus Dua Jam Tembus Hutan Belantara
MELAWI, (KN.com) - Perjuangan Agustinus Sabino, guru SDN 20 Landau Bunga, Desa Gelata kecamatan Sokan, Kabupaten Melawi, untuk mencerdaskan anak bangsa sungguh membutuhkan perjuangan yang teramat berat.
Betapa tidak, untuk sampai ke dusun tersebut dia harus menggunakan sepeda motor selama satu jam dengan kondisi jalan rusak berat, setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus hutan belantara sejauh 8 Km selama dua jam.
Dusun ini memang masih bagian daerah pedalaman yang dekat dengan perbatasan Kalteng.
Menurut Agus, dirinya dan Kepala Sekolah adalah pengajar yang berstatus PNS. "Di sekolah itu hanya dua yang berstatus PNS. Kepala sekolah dan saya sendiri," kata Agustinus Sabino di Melawi, Jumat (10/4).
Dituturkan, usai menempuh perjalanan menembus hutan, mereka harus menempuh perjalanan dengan jalur air agar sampai ke tujuan. Dengan perahu itulah, mereka menyusuri sungai dengan petugas yang mengarahkan perahu, karena perahu harus melalui beberapa riam dengan bebatuan.
"Kalau tidak begitu bisa-bisa menabrak batu," kata Agustinus Sabino.
Agustinus Sabino menyebutkan, dusun tersebut merupakan daerah terpencil yang ada di Melawi, karena memang sampai saat ini belum ada akses jalan darat yang bisa dilalui kendaraan sepeda motor.
"Bahkan saat akan membawa barang belanjaan, terpaksa harus dipikul melewati jalan tersebut sejauh 8 Km selama dua jam, tak heran kalau barang di sana harganya sangat mahal, bensin saja harganya Rp 22 ribu per kilogram bukan per liter," tandasnya.
Dusun dengan 60 kepala keluarga (KK) itu memang masih sangat tertinggal. Karena sampai kini belum ada jaringan listrik di sana, apalagi jaringan telepon seluler. Untuk mendapatkan sinyal terpaksa Agustinus Sabino harus mencari bukit saat ada keperluan mendesak.
"Sedangkan di saat akan mengirim data dakodik ke pusat, terpaksa kami harus turun ke kota, sebab jaringan internet di kecamatan belum memadai," katanya.
Kendati demikian, Agustinus Sabino sebagai guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Meskipun sampai kini tunjangan daerah terpencil yang dijanjikan pemerintah tidak kunjung terealisasi.
"Sudah empat tahun mengabdi di sana belum pernah sekalipun mendapatkan tunjangan daerah terpencil. Padahal melalui SK nya bupati menetapkan daerah tersebut sebagai daerah terpencil," katanya. (TP)
Betapa tidak, untuk sampai ke dusun tersebut dia harus menggunakan sepeda motor selama satu jam dengan kondisi jalan rusak berat, setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus hutan belantara sejauh 8 Km selama dua jam.
Dusun ini memang masih bagian daerah pedalaman yang dekat dengan perbatasan Kalteng.
Menurut Agus, dirinya dan Kepala Sekolah adalah pengajar yang berstatus PNS. "Di sekolah itu hanya dua yang berstatus PNS. Kepala sekolah dan saya sendiri," kata Agustinus Sabino di Melawi, Jumat (10/4).
Dituturkan, usai menempuh perjalanan menembus hutan, mereka harus menempuh perjalanan dengan jalur air agar sampai ke tujuan. Dengan perahu itulah, mereka menyusuri sungai dengan petugas yang mengarahkan perahu, karena perahu harus melalui beberapa riam dengan bebatuan.
"Kalau tidak begitu bisa-bisa menabrak batu," kata Agustinus Sabino.
Agustinus Sabino menyebutkan, dusun tersebut merupakan daerah terpencil yang ada di Melawi, karena memang sampai saat ini belum ada akses jalan darat yang bisa dilalui kendaraan sepeda motor.
"Bahkan saat akan membawa barang belanjaan, terpaksa harus dipikul melewati jalan tersebut sejauh 8 Km selama dua jam, tak heran kalau barang di sana harganya sangat mahal, bensin saja harganya Rp 22 ribu per kilogram bukan per liter," tandasnya.
Dusun dengan 60 kepala keluarga (KK) itu memang masih sangat tertinggal. Karena sampai kini belum ada jaringan listrik di sana, apalagi jaringan telepon seluler. Untuk mendapatkan sinyal terpaksa Agustinus Sabino harus mencari bukit saat ada keperluan mendesak.
"Sedangkan di saat akan mengirim data dakodik ke pusat, terpaksa kami harus turun ke kota, sebab jaringan internet di kecamatan belum memadai," katanya.
Kendati demikian, Agustinus Sabino sebagai guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Meskipun sampai kini tunjangan daerah terpencil yang dijanjikan pemerintah tidak kunjung terealisasi.
"Sudah empat tahun mengabdi di sana belum pernah sekalipun mendapatkan tunjangan daerah terpencil. Padahal melalui SK nya bupati menetapkan daerah tersebut sebagai daerah terpencil," katanya. (TP)



Tidak ada komentar: