20 Pemuda Dayak Datangi Mapolres
SANGGAU, (KN.com) - Sekitar 20 orang pengurus inti serta anggota dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Pemuda Dayak Kabupaten Sanggau (PDKS), mendatangi Mapolres Sanggau, Senin (30/3).
Kedatangan itu untuk mengkomunikasikan lebih lanjut kepada Kapolres Sanggau terkait bentrokan yang melibatkan oknum serta masyarakat di perbatasan, Jumat (27/3) pekan lalu.
Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go, menegaskan, agar persoalan ini tidak selalu dikait-kaitkan dengan masing-masing instansi atau organisasi. Ia menilai, persoalan yang terjadi hanya melibatkan oknum dari masing-masing kedua belah pihak, bukan instansi maupun organisasi.
"Ini masalah oknum, bukan organisasi. PDKS itu organisasi terhormat, PDKS tidak pernah bentrok dengan BC (Bea Cukai)," pungkasnya.
Kepala Satuan Intelkam Polres Sanggau, AKP Wahyu Hartono, menjelaskan, Polres masih meminta penjelasan pihak-pihak yang terkait dalam kejadian tersebut.
"Dibuat jelas dulu permasalahannya, fakta hukum di lapangan seperti apa. Dugaan awalnya, yang dilaporkan satu pihak, penyerangan beberapa orang, tapi yang jelas kami belum bisa pastikan saat ini," katanya.
Dikatakan, hingga sekarang, pihak dari Bea Cukai Entikong sendiri belum dapat dimintai tanggapannya.
"Pas kejadian memang sempat tutup sebentar, tapi sebentar saja, setelah itu sampai hari ini pelayanan di Border sudah normal seperti biasa," ungkapnya.
Sementara itu, pertemuan yang bersifat komunikasi dan koordinasi ini berlangsung tertutup selama lebih kurang dua jam, di ruang Kapolres Sanggau. Sekjen DPP PDKS, Urbanus, menyampaikan, inti pertemuan itu, PDKS meminta pihak kepolisian menyikapi dan memediasi antar kedua belah pihak terkait masalah yang timbul.
"Kami minta dari Bea Cukai mau berdialog, karena implikasinya kan banyak, bukan hanya perkelahian saja, masalah penyebutan etnis yang disebut oknum Bea Cukai itu hanya pemicu. Kami hargai Pak Kapoles yang akan menyelesaikan permasalahan ini dengan baik," katanya, Senin (30/3). (TP)
Kedatangan itu untuk mengkomunikasikan lebih lanjut kepada Kapolres Sanggau terkait bentrokan yang melibatkan oknum serta masyarakat di perbatasan, Jumat (27/3) pekan lalu.
Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go, menegaskan, agar persoalan ini tidak selalu dikait-kaitkan dengan masing-masing instansi atau organisasi. Ia menilai, persoalan yang terjadi hanya melibatkan oknum dari masing-masing kedua belah pihak, bukan instansi maupun organisasi.
"Ini masalah oknum, bukan organisasi. PDKS itu organisasi terhormat, PDKS tidak pernah bentrok dengan BC (Bea Cukai)," pungkasnya.
Kepala Satuan Intelkam Polres Sanggau, AKP Wahyu Hartono, menjelaskan, Polres masih meminta penjelasan pihak-pihak yang terkait dalam kejadian tersebut.
"Dibuat jelas dulu permasalahannya, fakta hukum di lapangan seperti apa. Dugaan awalnya, yang dilaporkan satu pihak, penyerangan beberapa orang, tapi yang jelas kami belum bisa pastikan saat ini," katanya.
Dikatakan, hingga sekarang, pihak dari Bea Cukai Entikong sendiri belum dapat dimintai tanggapannya.
"Pas kejadian memang sempat tutup sebentar, tapi sebentar saja, setelah itu sampai hari ini pelayanan di Border sudah normal seperti biasa," ungkapnya.
Sementara itu, pertemuan yang bersifat komunikasi dan koordinasi ini berlangsung tertutup selama lebih kurang dua jam, di ruang Kapolres Sanggau. Sekjen DPP PDKS, Urbanus, menyampaikan, inti pertemuan itu, PDKS meminta pihak kepolisian menyikapi dan memediasi antar kedua belah pihak terkait masalah yang timbul.
"Kami minta dari Bea Cukai mau berdialog, karena implikasinya kan banyak, bukan hanya perkelahian saja, masalah penyebutan etnis yang disebut oknum Bea Cukai itu hanya pemicu. Kami hargai Pak Kapoles yang akan menyelesaikan permasalahan ini dengan baik," katanya, Senin (30/3). (TP)



Tidak ada komentar: