OPINI : Menanti Kejujuran
SINTANG, (KN.com) - Ada yang menarik dari satu judul lagu Ahmad Albar, yang entah kenapa ingin saya dengarkan lirik-liriknya lagunya. Menanti Kejujuran! Dan itu rasanya sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Indonesia.
Kenapa NKRI ini semakin hari semakin semraut dalam berbagai aspek, sebut saja misalnya soal harga BBM yang tidak ada hitungan seumur jagung sudah naik-turun dan naik lagi. Katanya sang Presiden di kelilingi oleh para pakar dibidangnya masing-masing.
Kalau bagi kami masyarakat biasa, itu masuk hitungan paling bodoh soal penentuan harga jika diserahkan kepada mekanisme harga minyak mentah dunia, karena BBM adalah modal dasar dari usaha bisnis apapun terutama yang menyangkut sembako. Jika itu harga emas memang tidak ada persoalan yang berarti jika mengikuti harga yang berlaku di pasaran dunia karena itu bukan termasuk kebutuhan mendasar.
Pemerintah harus berani mengalihkan pengeluaran yang bukan menyangkut kebutuhan mendasar atau menunda pembangungan yang bersifat mercusuar atau prestise belaka. Beban anggaran di dalam APBN hingga APBD harus transparan dan selayaknya bisa di akses atau dimonitor langsung oleh masyarakat, jangan ada lagi anggaran siluman seperti kata pak Ahok (Gubernur DKI Jakarta) yang seharusnya menjadi contoh positif bagi Kepala Daerah di berbagai tingkatan.
Disisi lain masyarakat dibebani oleh pajak yang terus bertambah besarnya bahkan hampir saja batu akik juga ingin dikenakan pajak. Tapi hasil dari pajak sama sekali tidak kelihatan terutama pajak kendaraan yang katanya untuk peningkatan kualitas jalan.
Lihat saja seperti di Kabupaten Sintang apa ada perubahan kualitas jalan atau malah justru semakin hancur lebur ??? Miris rasanya jika kita bandingkan dengan Kuching salah satu kota Negara tetangga kita yang masih satu daratan dengan bumi Borneo begitu bersih dan tertata rapi. Entah kurang apalagi studi banding pejabat baik Pusat maupun Daerah dengan semangat katanya untuk kepentingan masyarakat, namun sepulangnya dari studi banding mungkin semua konsep itu juga hilang terbawa angin sepoi-sepoi basa dan berganti dengan angin full debu di sepanjang jalan yang berlubang.
Jadi jika ada pertanyaan di Sintang lebih banyak mana :”jalan yang berlubang” atau “lubang yang berjalan” mungkin jawaban nya 11-12 lah.
Secara umum memang saat ini sedang krisis di berbagai lini usaha banyak yang macet, petani karet menjerit karena harga karet tak kunjung beranjak naik demikian juga sector ril yang lainnya. Sementara itu para politikus sedang sibuk berebut kekuasaan, para birokrat juga tidak sedikit yang berlaku aneh padahal jika berharap pada gaji tidak mungkin bisa kaya luar biasa.
Sayangnya pembuktian terbalik bagi para birokrat yang patut diduga bertindak melawan hukum nyaris tak pernah terdengar, semuanya seperti terstruktur dan massif. Akhirnya masyarakat hanya berharap dengan Tuhan karena suatu saat nanti semua harus mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada-Nyalah semua akan berakhir. (*)
Kenapa NKRI ini semakin hari semakin semraut dalam berbagai aspek, sebut saja misalnya soal harga BBM yang tidak ada hitungan seumur jagung sudah naik-turun dan naik lagi. Katanya sang Presiden di kelilingi oleh para pakar dibidangnya masing-masing.
Kalau bagi kami masyarakat biasa, itu masuk hitungan paling bodoh soal penentuan harga jika diserahkan kepada mekanisme harga minyak mentah dunia, karena BBM adalah modal dasar dari usaha bisnis apapun terutama yang menyangkut sembako. Jika itu harga emas memang tidak ada persoalan yang berarti jika mengikuti harga yang berlaku di pasaran dunia karena itu bukan termasuk kebutuhan mendasar.
Pemerintah harus berani mengalihkan pengeluaran yang bukan menyangkut kebutuhan mendasar atau menunda pembangungan yang bersifat mercusuar atau prestise belaka. Beban anggaran di dalam APBN hingga APBD harus transparan dan selayaknya bisa di akses atau dimonitor langsung oleh masyarakat, jangan ada lagi anggaran siluman seperti kata pak Ahok (Gubernur DKI Jakarta) yang seharusnya menjadi contoh positif bagi Kepala Daerah di berbagai tingkatan.
Disisi lain masyarakat dibebani oleh pajak yang terus bertambah besarnya bahkan hampir saja batu akik juga ingin dikenakan pajak. Tapi hasil dari pajak sama sekali tidak kelihatan terutama pajak kendaraan yang katanya untuk peningkatan kualitas jalan.
Lihat saja seperti di Kabupaten Sintang apa ada perubahan kualitas jalan atau malah justru semakin hancur lebur ??? Miris rasanya jika kita bandingkan dengan Kuching salah satu kota Negara tetangga kita yang masih satu daratan dengan bumi Borneo begitu bersih dan tertata rapi. Entah kurang apalagi studi banding pejabat baik Pusat maupun Daerah dengan semangat katanya untuk kepentingan masyarakat, namun sepulangnya dari studi banding mungkin semua konsep itu juga hilang terbawa angin sepoi-sepoi basa dan berganti dengan angin full debu di sepanjang jalan yang berlubang.
Jadi jika ada pertanyaan di Sintang lebih banyak mana :”jalan yang berlubang” atau “lubang yang berjalan” mungkin jawaban nya 11-12 lah.
Secara umum memang saat ini sedang krisis di berbagai lini usaha banyak yang macet, petani karet menjerit karena harga karet tak kunjung beranjak naik demikian juga sector ril yang lainnya. Sementara itu para politikus sedang sibuk berebut kekuasaan, para birokrat juga tidak sedikit yang berlaku aneh padahal jika berharap pada gaji tidak mungkin bisa kaya luar biasa.
Sayangnya pembuktian terbalik bagi para birokrat yang patut diduga bertindak melawan hukum nyaris tak pernah terdengar, semuanya seperti terstruktur dan massif. Akhirnya masyarakat hanya berharap dengan Tuhan karena suatu saat nanti semua harus mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada-Nyalah semua akan berakhir. (*)
Gana Suka
Mantan Direktur PDAM Sintang


.jpg)
Tidak ada komentar: